Puisi Muraz Riksi "Sampah Yang Mengotori Mata" Puisi Kritik Sosial
Apa yang menjadi tanda bahwa seseorang telah dewasa? Diantaranya orang itu akan menghindari perdebatan yang sia-sia. Ia lebih nyaman dengan kesendiriannya dan akan menghindari orang-orang yang juga abai kepadanya. Selayaknya manusia itu sendiri yang beragam, ada yang haus akan jabatan, ada yang suka mencari kesalahan orang, ada yang menjadi pengamat untuk tujuan menghakimi dan ada pula yang mencari jalan untuk menjilati agar namanya diakui. Berikut teks puisinya:
"Sampah
Yang Mengotori Mata"
Oleh : Muraz Riksi
Kau kucilkan
dari belakang
Kau sanjung dari depan
Ini bukan
pertandingan merekrut banyak pendukung
Menangmu kau punya rupiah
untuk membuat mereka mengiyakan segala apa yang kau kata
Sayangnya
aku tak punya itu
Karena yang
kutanam adalah setia
Aku tidak
mundur
Hanya duduk
diam melihat kebodohan belaka
Apa aku
resah?
Tidak sama
sekali
Karena yang
kau ajak adalah pengkhianat yang kuhindari
Seleksi dari rupiahmu membuatku tahu mana yang setia
dan mana yang bermuka dua
Camkan
Kau main
rupiah saat kau punya
Setelah itu
kau hanya akan tinggal nama
Karena yang
bermuka dua seperti semut yang mengerumuni gula
Lalu apa
hubungannya dengan enceng gondok itu?
Bagimu, itu
adalah sampah yang mengotori mata
Tapi kau
lupa bahwa sampah itu pun dapat berbunga
Bireuen, 08
Maret 2021
Post a Comment