Anak Kecilnya Ayah Puisi Khoirul Triann

Table of Contents
Anak Kecilnya Ayah Puisi Khoirul Triann

Anak Kecilnya Ayah merupakan judul puisi karya Khoirul Triann yang dibacakan olehnya di Kanal Youtube Catatan Khoirul Triann. Berikut teks puisinya :

Hai

Hai semua,
perkenalkan, ini aku,
anak kecilnya Ayah.
Sekarang sudah tegak berdiri,
dibantai semesta dari setiap keluh kesahnya.

Keadaan, aku butuh pahlawan.
Penjaga aku dari kejauhan,
datang lalu memeluk lagi pundakku yang sedang patah.
Sudut Ayah jalannya kejauhan.
Aku tak pernah
anak kecil yang ketinggalan,
disisakan janji-janji untuk segera dibahagiakan.

Pelan-pelan,
semuanya akan terwujud,
karena kakiku masih kuat berjalan sendirian.

Kalau lukanya berdarah-darah,
tidak karuan,
senyumnya kadang sengaja diumbar,
untuk sekadar memberikan ketenangan,
untuk memastikan semuanya seperti sedang baik-baik saja.
Padahal aku bohong.

Waktu aku bilang aku kuat, aku bohong.
Waktu aku bilang aku bisa lari sendiri, aku bohong.
Nyatanya, jatuh berkali-kali masih jadi kecenderungan.

Dia pernah berkata,
"Menangis tidak bisa menyelesaikan semuanya.
Tapi dengan menangis, sedikit penatnya akan turun,
sedikit pikirannya akan pamit dari kepala.
Dengan begitu, tenang.
Semuanya menenangkan."

Ternyata, yang aku cari selama ini hanya peluknya.
Ternyata, rindu selama ini hanya kasih sayangnya.
Sedikit sungkan mengungkapkan cinta,
lalu aku takut belum sempat mengatakannya.

Karena hanya diperlukan sedikit,
semua masalah akan tumpah.
Ayah, anak kecilmu gagal.
Anak kecilmu lututnya berdarah,
dipecundangi semesta.

Maaf ya,
mungkin semuanya akan mengecewakan,
makanya dengan sengaja semuanya kupendam sendirian.

Aku hanya tidak mau terlihat lemah.
Aku, karena laki-laki yang paling kuat.
Dan aku sedang berusaha untuk menguatkan diriku sendiri.
Jatuh tanpa tumbuhan,
dan bangkit tanpa tangan.

Hai, anak kecil.
Lucu sekali ya?
Masanya dipencet keadaan saja, dia menangis,
seolah semuanya hancur berantakan.

Padahal kan semua akan baik-baik saja?
Kan semuanya akan tetap berjalan pada porsinya?
Awan tidak peduli manusia yang sedang lemah.
Matahari juga tidak akan pernah menjenguk
salah satu penghuni bumi yang sedang sakit.

Semuanya tidak paham dengan apa yang aku rasakan.
Semua aktor di kehidupan ini memakai topeng.
Ya, aku sulit melihat,
dimana jalan yang bisa kulewati.

Saya, anak kecil ungu ini,
kayaknya masih seperti yang dulu.
Jam tidurnya sudah terbalik.

Kalau dulu aku susah tidur siang,
sekarang untuk tidur nyenyak pun aku sudah lupa rasanya gimana.

Ayah,
anaknya Ayah sudah dewasa.
Tapi belum bisa membuatnya bahagia.

Maaf.
Aku payah.

***
Demikian Teks Puisi Khoirul Triann Anak Kecilnya Ayah.
 
(Catatan Penutup)
Terima kasih telah berkunjung ke website Sampah Kata.
Salam kopi pahit...

Post a Comment